Tari Lawet, Kesenian dari Kota Kebumen.
Kota Kebumen terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kota Kebumen, tempat di mana saya dilahirkan dan dibesarkan. Kebumen terkenal dengan semboyannya yaitu Kebumen BERIMAN, Bersih Indah Aman dan Nyaman. Di pusat kota, terdapat tugu Lawet sebagai iconnya Kebumen. Banyak warga yang membudidayakan burung lawet untuk usahanya. Sarang burung lawet banyak ditemukan di goa karang di pantai Karangbolong. Kota ini mempunyai kesenian tradisional. Kesenian dari Kota Kebumen yaitu Kuda Lumping, Wayang Kulit, Rebana, Tari Lawet, Jamjaneng atau yang akrab disebut dengan janengan, dan masih banyak lagi yang lain. Terutama tari lawet, tari lawet sangat menggambarkan Kota Kebumen, seperti icon dari kota ini.
Tari Lawet merupakan Kesenian tradisional dari Kota Kebumen. Tari ini diciptakan oleh Bapak Sardjoko. Tari ini diciptakan ketika Bupati Kebumen yang menjabat pada saat itu menginginkan suatu pementasan tari tradisional yang khas dari Kota Kebumen untuk acara pembukaan Jambore di Bumi Perkemahan Widoro Payung, Karangsambung. Namun pada saat itu Kebumen belum memiliki tari tradisional. Maka timbul kenginan dari Bapak Sardjoko untuk menciptakan tarian khas kebumen. Bapak Sardjoko merupakan seniman Kota Kebumen. Ia menemukan inspirasi untuk menciptakan tari khas Kebumen dari burung lawet yang sedang beterbangan. Burung Lawet banyak terdapat di Daerah Kebumen.
Gerakan Tari Lawet lincah dan ceria. Tari lawet menggambarkan kehidupan burung lawet, mulai dari mencari makan sampai kembali ke sarangnya. Kostum tari Lawet juga menggambarkan burung lawet. Bapak sardjoko juga telah menentukan kostumnya dari atas kepala sampai ke kaki. Kostum itu terdiri dari jaman dan garuda mungkur, baju, celana, sayap, kalung kace, benting, slepe, rampek, acal, sonder, gelang kaki. Tari lawet diiringi musik Lawet Aneba dan diberi vokal.
Tari lawet pernah dipentaskan pada acara-acara besar di Kebumen. Tari Lawet pernah dipentaskan di Alun-alun Kebumen, Stadion Candradimuka, lapangan pemandian air panas di Krakal, Alian. Selain itu, pernah juga di pentaskan di TMII dalam acara anjungan Jawa Tengah.
Seperti itulah pemaparan tentang tari lawet. Semoga menambah pengetahuan anda tentang kesenian dari Kebumen.
Oleh : Khusnul Roifah
Kesenian Ebeg
Bagi sebagian masyarakat Kebumen dan kota lain di Jawa Tengah, kesenian ebeg ini sangat terkenal dan setiap pementasannya selalu menarik banyak penonton. Biasanya mereka tampil dalam acara-acara seperti sedekah bumi, dan acara memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Ada juga yang mengundang kelompok kesenian ebeg ini di acara hajatan. Sekali pentas mereka mendapat bayaran antara satu hingga satu setengah juta rupiah. Tidak terlalu mahal, untuk menyemarakkan hajatan di kampung-kampung. Kesenian ebeg (kuda lumping) ini kabarnya sudah ada sejak jaman Pangeran Diponegoro, sekitar abad ke 18, atau ada juga yang mriwayatkan sudah ada sejak jaman Raden Patah di Demak. Para pemain Ebeg begitu bangga disebut pasukan penunggang kuda, kendati kuda yang mereka tunggangi hanya terbuat dari anyaman bambu. Satu grup ebeg biasanya terdiri dari dua puluh orang. Selain ketua rombonganEbeg, ada pemain, penabuh gamelan dan penimbul ebeg. Yang menarik adalah penimbul (atau dukun Ebeg), dialah yang bertugas memanggil dan memulangkan arwah atau indang, dan menjadi penanggung jawab proses pertunjukan Ebeg. Penimbul Ebeg juga harus pandai mengendalikan para pemain yang sudah kerasukan hebat. Selain itu, dia juga harus bisa melindungi seluruh anggota tim dan penonton, bila ada seseorang yang jahil sengaja mengacaukan pertunjukan Ebeg atau sekedar menjajal ilmu-nya. Bila terjadi, biasanya sang penari tidak mampu bergerak. Oleh karena itu, penimbul atau dukun Ebeg ini benar – benar harus orang yang memiliki ilmu yang mumpuni untuk memanggil roh.
Ebeg adalah pestanya para arwah atau indang, sehingga indang selalu meminta suguhan layaknya manusia. Asap kemenyan yang diumpamakan sebagai nasi dan bunga sebagai sayuran. Berbeda dengan mantra jaelangkung yang datang tak diundang pulang tak diantar. Maka indang, pulang harus diantar. Ada puluhan gending yang biasanya mengiringi pertunjukan ebeg. Empat diantaranya sangat berpengaruh mengundang indang. Mereka adalah cempo, eling eling, kembang jeruk dan ricik-ricik. Para penikmat dan pemerhati kesenian ebeg / kuda lumping biasanya sudah memahami benar, apabila salah satu dari keempat gending itu dimainkan, maka sudah pasti para indang akan segera datang dan merasuki para penari. Sulit mempercayainya, tetapi itulah fakta yang ada bahwa sisi mistis dan aura magic Ebeg dan kuda lumping selalu ada di setiap pertunjukan Ebeg digelar. Itulah ebeg, kesenian kita yang khas dan mengakar, dimana estetika dan alam gaib tidak bisa dipisahkan. Sebelum Ebeg/kuda lumping digelar, penimbul dan ketua grup memasang pagar gaib di setiap sudut halaman dengan menebar bunga. Baik penimbul dan ketua indang harus membuat semacam perjanjian dengan indang. Kapan pertunjukan dimulai dan kapan harus berakhir. Mereka tidak berani mengingkari, karena bila batas waktu pertunjukan dilampaui, indang bisa saja nyasar kemana mana dan bisa menimbulkan malapetaka atau cidera baik para pemain maupun penonton di sekitar lokasi pertunjukan Ebeg.
Ketika pertunjukan Ebeg usai, penimbul harus menepati janji untuk memulangkan arwah kembali ke tempat dimana mereka bermukim. Kalau sudah begini, biasanya penimbul yang akan mengambil peran. Ia mengucapkan kata-kata yang ditakuti oleh indang. Indang seharusnya dipulangkan dengan membuat dupa dan kemenyan, namun cara ini sangat merepotkan. Penimbul memilih cara lain, yakni memasukkannya ke dalam kendang, lalu dipulangkan secara bersamaan di halaman rumah yang punya hajat/tempat pertunjukan Ebeg. Kekuatan mistis memang menjadi daya tarik ebeg ini. Kebudayaan pop dan moderenisasi membuat kesenian ini menjadi tidak menarik lagi bagi sebagian orang yang tinggal di kota besar maupun generasi muda yang sudah tidak peduli dengan budaya nenek moyang. Namun di pedesaan di Kabupaten Kebumen, kesenian ebeg masih hidup, eksis, tetap ada, dan menjadi aset budaya Kebumen. Demikian informasi budaya tentang kesenian Ebeg dan cerita tentang Ebeg, semoga bermanfaat. (/Setra)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar